
Bermain sambil belajar bukanlah slogan semata. Prakteknya harus imbang antara dalam dan luar ruangan.
Kapan terakhir kali kita melihat banyak anak secara aktif bermain di ruangan terbuka bersama teman-temannya? Rasanya sudah lama saya tak melihat bagaimana peran lingkungan dapat berperan aktif menumbuhkan jiwa sosial dan merangsang motorik anak. Tak banyak tempat bagi mereka untuk bereksplorasi karena bangunan sekarang sudah dirancang nyaman dan aman, dengan beton sebagai limitasi pembelajaran.
​
Area bermain sekarang bertumpu pada pusat perbelanjaan di tengah kota yang menyediakan banyak hiburan, ramai oleh khalayak di akhir pekan. Tak banyak lagi pepohonan rimbun dan area hijau yang memicu rasa penasaran anak. Mengapa bebek bisa berenang, mengapa daun warnanya hijau, atau mengapa langit berwarna biru? Pilihan tempat bermain dan belajar hanya fokus di dalam ruangan, sehingga matahari tak lagi jadi kawan.
​
Suatu hari, ketika mengunjungi anak saya yang tinggal di Norwegia, sebuah pemahaman baru terukir di benak saya. Di musim dingin 2022, kami berjalan ke salah satu taman kanak-kanak tak jauh dari tempat anak saya tinggal. Saat itu temperatur di bawah 0 derajat, angin dingin kencang bertiup, salju putih pun tebal menutupi jalan. Rasanya berat sekali melangkahkan kaki ke luar, untuk saya seorang yang puluhan tahun tinggal di negara tropis. Namun yang saya dengar saat itu justru teriakan senang, canda tawa, serta keseruan anak kecil bermain seluncuran di cuaca yang sangat ekstrem. Menelisik ke dalam lagi, saya belajar bahwa pendidikan anak usia dini Norwegia memang berbeda. Di Norwegia, anak-anak usia dini memiliki kesempatan yang luas serta kebebasan untuk bermain di luar ruangan, namun tetap punya waktu untuk berkreatifitas dan berkreasi di dalam ruangan.​
​
Atas dasar inilah, saya terinspirasi untuk membawa nilai-nilai positif dari Norwegia untuk diaplikasikan ke Chatya Manis. Di satu sisi, masih sangat jarang pendekatan ala Eropa Utara diaplikasikan di Indonesia, terutama di Palembang, dan hal ini bisa membawa inovasi baru untuk perkembangan pendidikan anak usia dini di Indonesia. Bukan hanya slogan semata yang menjanjikan proses pembelajaran lewat sebuah permainan, namun anak-anak di Norwegia juga senantiasa diajarkan untuk lebih percaya diri, mandiri, dan komunikatif di lingkungan sekolah.
​
Di tahun 2025, kami memiliki misi untuk mengubah pembelajaran yang Chatya Manis miliki saat ini dan mempromosikan metodologi pembelajaran baru yang berfokus pada permainan layaknya di Norwegia. Melalui permainan inilah, kami memiliki kesempatan belajar bersama anak. Kami tak hanya fokus dengan baca-tulis-berhitung (calistung), namun juga melihat pembelajaran sebagai interaksi yang dinamis dan saling terkait antara fisik, mental, dan lingkungan tempat anak-anak tumbuh. Oleh karena itu, area pembelajaran kami tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga memastikan bahwa anak-anak dapat bereksplorasi dan berimajinasi yang luas lewat alam yang ada di sekitar mereka.​
​
Ke depannya, pendekatan ini diharapkan mampu menjadikan Chatya Manis lebih kompetitif dengan menyisipkan aspek-aspek positif dari budaya berbeda dalam setiap pembelajaran dan pengembangan anak.
​
​​​​​​
Salam hormat,
Hj. Etty Yuniarti, S.E., M.M.
​
​




